Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

/nya·man/

"Rasanya aneh aja. Aku nggak tau kata ganti apa yang bisa digunakan selain aneh" "Oh iya aku tau, kayaknya nyaman deh" Tidak pernah kehabisan bahan untuk dibagi bersama. Tidak pernah bosan untuk mendengar dan didengar. Tidak pernah ragu untuk mengeluh dan menerima keluhan. Tidak pernah aku tidak tertawa dalam waktu yang dibunuh bersama. Sama sekali tidak pernah berusaha menciptakan suasana yang dirasa tepat, tapi sering semua selalu terasa tepat. Tapi khawatir apa jadinya jika suatu saat harus merasakan suasana tidak tepat. Atau malah tidak punya waktu lagi untuk merasakan suasana tepat itu. Apakah aku mudah beradaptasi lagi? Ternyata nyaman itu tercipta, bukan dicipta. Nyaman itu tidak berparameter, ya nyaman saja . Nyaman juga tidak berarti berkomitmen. Jadi jika nyaman adalah alasan bertahan, artinya bahaya. Karena nyaman tidak mampu menjanjikan apa apa. Tapi apakah nyaman lekang oleh waktu? Dan apakah nyaman bergantung pada subjek? Seharusnya tidak le...

Amanah adalah alasan paling kuat

Kita ada dalam sebuah sistem Dimana isinya adalah kumpulan manusia Yang punya ambisi berbeda dan karakter yang beragam Kita ada dalam sebuah wadah Yang isinya adalah kumpulan manusia Yang punya mimpi yang sama, bisa duduk di posisi sekarang Diberi amanah dan memegang sebuah jabatan Dan ternyata satu dari kumpulan tersebut sadar Merasa tak cocok berada di kumpulan Merasa sistem ini punya alur yang menyimpang Akhirnya merasa sulit menuntaskan amanah Lantas sudah begini siapa yang harus disalahkan? Apakah diri sendiri karena terlalu mudah dilimpahkan amanah? “Ketika kita menjalani suatu amanah, saat kita tidak menyukai sistemnya maka sukai kumpulannya. Saat kita tidak menyukai kumpulannya maka sukai sistemnya. Dan saat kita tidak suka keduanya, maka sukai amanahnya” – Tri Oktafiana Cari celah dimana kita bisa suka dengan apa yang kita lakukan. Jangan mencari ketidak sukaan. Karena sampai kapan pun, ket...

Wajah Telaga, Dewi Lestari

Wajah telaga tidak pernah berdusta Ia bergetar saat udara halus menyapa mukanya Ia berteriak saat angin lincah mengajaknya menari Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar Menghadap awan yang menunggu sabar dini hari datang Untuk keduanya bersentuhan Wajah telaga tidak pernah menyangkal Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati Menanti awan yang berubah tak pasti hingga pagi datang dan keduanya berpulang pada kejujuran Izinkan wajahku menjadi wajah telaga Merona saat disulut cinta Menangis saat batin kehilangan kata Memerah saat dihinggapi amarah Menggurat saat digores waktu Izinkan wajahku bersuara apa adanya Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang Lalu kau ...